Mental Health Alarm: Tekanan Media Sosial pada Generasi Digital

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk maraknya penggunaan artificial intellegence (AI) di berbagai platform dan aplikasi semakin mempererat interaksi anak muda, termasuk remaja dan mahasiswa dalam dunia maya. Kemajuan teknologi tersebut memang memberikan manfaat yang luar biasa bagi mereka, tidak hanya membantu dari sisi hiburan tetapi juga membantu sisi akademis dan ekonomi mereka. Namun, dibalik kebermanfaatan dan kemudahan akses menimbulkan dampak lain yang cukup berbahaya bagi perkembangan emosi mereka. Kecemasan, depresi, amarah dan pencarian validasi melalui media sosial masih menjadi tantangan yang memerlukan solusi efektif dan efisien.

Kecemasan yang Meningkat: Ketergantungan pada Notifikasi dan Respons

Banyaknya postingan yang berkeluh kesah, galau, hingga pertengkaran online dengan saling menyindir dijadikan solusi untuk permasalahan yang mereka hadapi. Tak pelak, hal itu semakin mengundang komentar negatif warganet yang akhirnya meningkatkan tingkat kecemasan (anxiety) pada penggunanya. Setiap notifikasi, komentar, atau pesan langsung dari media sosial sering kali menjadi pemicu kecemasan, terutama bagi generasi muda yang lebih sering online. Data dari WHO (2024) bahwa masalah kesehatan mental akan mulai banyak dirasakan sejak usia 14-18 tahun. Kondisi ini semakin parah dikarenakan lebih dari setengah remaja tidak mencari bantuan ketika sedang mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dikarenakan takut, malu, atau tidak tahu harus kemana.
Rasa cemas ini muncul disebabkan oleh ketakutan akan “ketinggalan zaman” (FOMO atau fear of missing out), dimana seseorang merasa terabaikan atau tertinggal karena tidak mengikuti tren atau peristiwa yang sedang viral. FOMO semakin parah dirasakan remaja dan mahasiswa ketika ada perbandingan sosial yang terus-menerus di media sosial. Hal ini dapat menyebabkan stres berlebih, sehingga memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan mental penggunanya.

Depresi: Perbandingan Sosial yang Merusak

Fenomena perbandingan sosial dimedia sosial menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan depresi di kalangan pengguna media sosial. Media sosial seringkali menampilkan gambaran kehidupan yang sempurna dari para penggunanya, penggunaan filter yang berlebihan turut mendukung hal itu, apalagi dengan kemajuan AI semakin mempermudah para enggunanya untuk hidup bergelimang harta di dunia maya, namun pada kenyataannya tidak sesuai realita. Banyak anak muda yang merasa bahwa kehidupan mereka tidak cukup baik atau cukup menarik bila dibandingkan dengan teman-teman atau orang yang mereka ikuti di media sosial. Mereka mulai membandingkan kehidupan mereka, akhirnya rela melakukan apapun demi tampak mewah dan hebat di sosial media.

Situasi ini sesuai dengan teori perbandingan social (Social Comparison Theory) yang dicetuskan Festinger (1954) bahwa setiap individu memiliki dorongan untuk mengevaluasi diri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain yang lebih baik atau lebih buruk. Hal ini mempengaruhi kebahagiaan, harga diri, motivasi, dan adaptasi mereka dalam pergaulan baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.

Pencarian Validasi: Efek Positif yang Palsu

Faktor lain yang menyebabkan munculnya kecemasan adalah kebutuhan akan validasi diri, dan ini merupakan salah satu aspek yang sangat menonjol di dunia media sosial. Anak muda seringkali merasa perlu mendapatkan “likes”, komentar positif, atau pengikut (followers) yang banyak untuk merasa dihargai dan diakui. Hal ini menciptakan tekanan tersendiri, di mana setiap tindakan di media sosial, mulai dari unggahan foto hingga cerita pribadi, dilihat sebagai cara untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Namun, pencarian validasi yang berfokus pada jumlah “likes” dan “followers” ini tidak hanya tidak sehat, tetapi juga bisa merusak rasa percaya diri. Ketergantungan pada validasi eksternal ini membuat mereka merasa tidak berharga jika tidak mendapatkan respons positif

Cara terbaik dalam mengurangi dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental yaitu, dengan membangun kesadaran akan bagaimana media sosial memengaruhi perasaan dan pikiran. Anak muda perlu belajar untuk lebih selektif dalam memilih informasi yang mereka konsumsi dan memahami bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan.

Selain itu, diperlukan pelatihan “digital detox” atau pengurangan waktu di media sosial sehingga dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi yang mereka alami. Menggunakan waktu untuk aktivitas lain yang lebih produktif, seperti berolahraga, berkumpul dengan teman secara langsung, atau menekuni hobi, dapat membantu mengalihkan perhatian dan meningkatkan kesejahteraan mental. Selain itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, baik itu di rumah, di sekolah, atau di kampus. Dikarenakan komunikasi yang terbuka tentang kesehatan mental dan dampak media sosial bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan kesadaran kolektif yang lebih besar.

Media Sosial yang Sehat dan Bermakna

Remaja dan mahasisa tidak bisa berlepas diri dari kemajuan teknologi dikarenakan masa depan mereka juga berinteraksi dengan teknologi. Termasuk penggunaan media sosial akan selalu menjadi bagian penting dari kehidupan generasi digital. Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan anak muda agar bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tidak terjebak dalam pencarian validasi atau perbandingan sosial yang merugikan. Pada intinya, mengelola dampak media sosial terhadap kesehatan mental membutuhkan kesadaran, waktu untuk diri sendiri, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Dengan cara ini, media sosial bisa menjadi alat yang lebih sehat dan bermakna, bukan sumber tekanan yang merusak kesehatan mental mereka.

Hanif Asyhar*
*Trainer Spiritual Healthy Parenting Nasional, Konsultan Pendidikan dan Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published.